Selasa, 21 Desember 2010

PANDANGAN STRUKTURAL DAN PANDANGAN PRAGMATIK DALAM LINGUISTIK

Diposkan oleh Kartika Hidayati di 12/21/2010 06:36:00 PM
Reaksi: 

Kalimat Bisa ambilkan buku itu? Jika dilihat dari bentuknya berupa konstruksi interogatif, tetapi dari segi fungsinya kalimat itu digunakan untuk menanyakan tentang kemampuan (bisa tidaknya) orang yang diajak bicara. Kalimat tersebut, dari segi fungsinya dimaksudkan untuk memerintah secara tidak langsung. Makna yang sama itu dapat saja diutarakan dengan konstruksi imperatif, lalu menjadi Ambil buku itu! Tentu saja, konteksnya menjadi lain pula. Dengan mengamati kapan perintah dibahasakan dengan konstruksi imperatif dan kapan perintah dibahasakan dengan konstruksi interogatif akan tersingkaplah perbedaan sehubungan dengan siapa yang mengucapkan kalimat itu dan kepada siapa kalimat itu diucapkan.
Yang menjadi pusat perhatian kajian linguistik struktural adalah bentuk-bentuk lingual tanpa secara sadar mempertimbangkan situasi tuturan sehingga analisisnya bersifat formal. Linguistik struktural adalah linguistik yang menekankan struktur, yaitu bentuk-bentuk formal bahasa. Dalam analisis struktural yang diotak-atik adalah bentuk; suatu kalimat diterpong dengan mengamati yang mana yang berupa Subjek, yang mana yang berupa Predikat, dst. Bagian yang berupa subjek itu ada kemungkinan masih dapat dipotong-potong lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil; demikian juga bagian yang berupa predikat.
Di dalam analisis struktural konteks pemakaian kalimat (kapan kalimat diujarkan, oleh siapa dan kepada siapa kalimat itu diucapkan) tidak ikut diperhitungkan. Analisis struktural yang menyeluruh terjadi jika menganalisis wacana. Dengan jenis analisis ini, wacana diuraikan atas dasar unsur-unsurnya dari kalimat sampai dengan morfem bahkan fonem. Berikut ini adalah contoh analisis linguistik struktural terhadap wacana iklan minuman.
Wanita             : Kamu kedinginan?
Pria                  : Iya, nih. Belum makan lagi
Wanita             : Nih, minum Energen Jahe!
Secara struktural wacana tersebut terdiri atas empat kalimat dengan berbagai tipe secara berselang-selang, yaitu interogatif, deklaratif, dan imperatif. Kalimat pertama terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat Kamu kedinginan? Adalah kalimat interogatif. Kalimat kedua dan ketiga bertipe deklaratif. Kalimat ketiga Belum makan lagi merupakan klausa negatif karena di dalamnya terdapat kata negatif yaitu belum. Kalimat tersebut menerangkan sebab terjadinya peristiwa kedinginan. Kalimat keempat Nih, minum Energen Jahe! bertipe imperatif.
Sementara itu yang menjadi pusat kajian pragmatik adalah maksud pembicara yang secara tersurat atau tersirat di balik tuturan yang dianalisis. Maksud-maksud tuturan, terutama maksud yang diimplikasikan hanya dapat diidentifikasikan lewat penggunaan bahasa itu secara kongkret dengan mempertimbangkan secara seksama komponen situasi tutur ( Wijana 1996: 13). Hal yang sama juga dikemukakan Rustono dalam buku Pokok-Pokok Pragmatik yang menyebutkan analisis pragmatis adalah analisis bahasa berdasarkan sudut pandang pragmatik. Karena pragmatik mengungkapkan maksud suatu tuturan di dalam peristiwa komunikasi, analisis pragmatis berupaya menemukan maksud penutur, baik yang diekspresikan secara tersurat maupun tersirat dibalik tuturan.
Dengan bahan analisis yang sama dengan analisis linguistik struktural, berikut ini adalah contoh analisis pragmatis terhadap wacana iklan.
Wanita             : Kamu kedinginan?
Pria                  : Iya, nih. Belum makan lagi
Wanita             : Nih, minum Energen Jahe!
Secara pragmatis, yaitu dengan mempertimbangkan komponen-komponen situasi tutur, maksud wacana iklan itu dapat diidentifikasi. Hasil identifikasi itu adalah bahwa dengan wacana iklan itu dinyatakan secara tidak langsung bahwa minum Energen Jahe membuat tubuh merasa hangat dan menghilangkan rasa lapar. Maksud wacana itu dapat ditemukan berdasarkan alasan berikut. Bila ada pertanyaan kedinginan, dan orang yang ditanya menjawab iya. Maka semestinya orang yang bertanya menawarkan jaket. Peristiwa kedinginan itu ternyata diakibatkan karena belum makan, tetapi mitra tutur malah menawarkan minum. Logikanya, jika lapar maka yang dilakukan adalah makan. Tetapi, dalam iklan tersebut yang terjadi adalah wanita memerintahkan pria supaya minum Energen Jahe. Hal tersebut memberi makna secara tidak langsung, bahwa dengan minum Energen Jahe menjadikan kenyang dan hangat.
DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1987. Pragmatik dan Linguistik. Dalam Bacaan Linguistik Disunting oleh Masyarakat Linguistik Indonesia Komisariat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Rustono. 1999. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan Tulis Komentarmu Di Sini ^_^

 

Kartika Hidayati Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare